EVENTS

Karantina Miss Culinary: Tetap Fun Meski Penuh Tantangan

Karantina Miss Culinary: Tetap Fun Meski Penuh Tantangan

Banyak cerita seru pada hari pertama karantina 16 finalis Jawa Pos Miss Culinary with La Tulipe Cosmetiques 2018 kemarin (22/11) di Hotel Novotel Samator Surabaya. Mulai pukul 10.00 WIB, mereka mengikuti cooking class bersama Tristar Culinary Institute, public speaking, serta kelas fashion bersmaa G. Liem dan Melia Wijaya.

Cooking class diisi Presiden Direktur Tristar Group Juwono Saroso, Kepala Pemasaran Tristar Hendrik Adrianus, dan Chef Thomas Denny, “Menu cooking class kali ini cake decoration. Seluruhnya memakai bahan jelly atau agar-agar. Ini jadi hal baru buat peserta,” kata Juwono. Pengajar Tristar Culinary Institute Fitri Sintia Dewi menunjukkan cara menghias pudding dengan bahan jelly rumput laut. Astriana Nurwinda tampak cekatan. Belum 10 menit, wakil Kota Gresik itu sudah berhasil membuat dua hiasan berbentuk bunga. Padahal, ini adalah kali pertama dia membuat hiasan berbahan jelly. “Saya menganggap ini terbaik kartena dibuat dengan usaha dan jari tangan saya sendiri,” cetusnya, penuh percaya diri.

Tuntas bergelut dengan bahan-bahan manis, peserta digiring ke coffee maker yang dibawa barista Tristar, Edo Ubaidillah. Bersama Edo, peserta belajar latte art dengan teknik free pouring. Beberapa motif diajarkan, mulai tulip, cemara, hingga swan. Tingkat kesulitan yang cukup tinggi tak memadamkan semangat Salsabila Ghina untuk mencoba. “Kalau soal nyuntik dan merawat pasien sih sudah biasa, pasti aku telaten. Kali ini tantangan banget nih karena harus telaten bikin kopi,” ujar mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya itu.

Pukul 14.00 WIB, saat kelas public speaking, suasana berubah penuh gelak tawa. Hal itu terjadi saat Herlinda Dinda diminta menceritakan sedikit soal latar belakangnya mengikuti Miss Culinary. “Selain ingin mempunya prestasi, saya ingin membuktikan ke calon mertua kalau saya nggak cuma pinter dandan, tapi bisa bikin makanan enak buat anak lelakinya,” tutur perempuan 22 tahun itu. Menurut pemateri kelas public speaking, dosen Ilmu Komunikasi UK Petra Ika Damayanti, salah satu hal terpenting dalam berbicara di depan banyak orang adalah kepercayaan diri. Di hadapan publik, Miss Culinary harus memiliki skill berbicara yang bagus. Rasa nervous bisa direduksi dengan mengatur pernapasan. “Intonasi, volume, dan isi harus jadi perhatian utama.. Beda segmen atau usia beda pula cara penyampain kita,” jelasnya. 

Couture accessories designer G Liem dan fashion designer Melia Wijaya memberikan materi di kelas fashion. Para finalis dibagi menjadi empat kelompok, lalu mereka ditantang untuk mix and match baju rancangan Melia dan headpiece kreasi G Liem. Tak cuma mencocokkan, mereka juga harus mempresentasikan tema yang dibawakan. “Dalam satu kelompok, setiap anggota punya peran masing-masing, mulai model, fotografer, fashion stylist, hingga social media planner,” ujar G Liem

Setiap kelompok diminta untuk melakukan photoshot di berbagai spot di Hotel Novotel Samator. Waktu cuma 20 menit untuk pemotretan. Di akhir sesi, G Liem menilai karya seluru peseta dan memberikan hadia bagi pemenang.  Setelah pagi hingga sore menjalani serangkaian agenda yang padat, para finalis diajak bersantai sejenak dengan pesta barbeque.

Posted by Fullstop Indonesia